.

.

Folks Like Us: Online Course for Beginner Fiction Writer


Lewat buku-buku saya, kalian bertemu banyak tokoh dengan karakter yang berbeda-beda. Banyak di antara kalian yang merasa memiliki ikatan dengan tokoh-tokoh saya. Saya senang mengetahui tokoh-tokoh saya berhasil menggapai kalian, senang mendapati bahwa apa yang saya tulis bisa menyentuh kehidupan orang lain dan—semoga—memberi kebaikan.

Banyak juga di antara kalian yang bertanya, “Bagaimana cara menciptakan tokoh-tokoh seperti itu?” Saya pernah menceritakannya secara singkat di blog dan lewat sejumlah wawancara. Tetapi, selama ini saya belum memiliki kesempatan untuk memberi tahu seperti apa sebenarnya saya mengembangkan tokoh.

Saya senang sekali akhirnya bisa mengadakan kelas menulis online Folks Like Us yang membahas secara detail proses pengembangan tokoh. Saya tidak sabar membagi pengetahuan dan pengalaman saya mengenai hal ini kepada kalian. Jika saya bisa, kalian juga bisa. Kalian hanya perlu tahu caranya. Oh, dan belajar!

*

Vintage 2019 Calendar



Belakangan ini saya kembali senang bermain dengan Photoshop. Saya mengumpulkan gambar-gambar digital yang bernuansa usang dan lusuh, lalu menggabungkan mereka menjadi gambar baru. Lembar notes, label, tag, kartu pos, dan macam-macam. 

Saya juga kembali menyimpan kenangan lewat jurnal. Beberapa bulan lalu, saya ke Jepang dan membawa pulang Traveler's Notebook buatan Midori yang sedang digemari. Jurnal tersebut sempat mendekam lama di rak. Baru tiga atau empat pekan ini akhirnya saya buka dan isi. Saya berencana akan terus mengisi jurnal.

Nah. Mendekati 2019, saya membuat kalender. Untuk keperluan jurnal, tentu saja, Semula, saya tidak terpikir demikian. Saya justru ingin membeli desain digital yang siap dipakai atau mengambil desain yang dibagikan secara cuma-cuma di banyak blog. Lebih mudah, jelas. Tetapi, saya tidak menemukan nuansa yang pas dengan gaya saya dalam mengisi jurnal.

Jika ada di antara kalian yang juga menyukai desain vintage dan ingin menyelipkan kalender ini di jurnal, silakan mengunduhnya di sini.

Ukuran tiap kalender 8cm x 12cm, disesuaikan dengan Traveler's Notebook. Tetapi, tetap bisa digunakan untuk jurnal apa saja. Saya sudah menyusunnya di kertas A4 agar bisa langsung dicetak.

Untuk kalian yang membutuhkan file individu tiap kalender dan barangkali ingin mencetaknya sedikit lebih besar (karena kualitas aslinya tinggi, 300 dpi), bisa ke sini.

Semoga bermanfaat dan kalian menyukainya!

Song For Alice: Second Chapter



Alice menghirup dalam-dalam uap yang keluar dari cangkir. Gadis itu tersenyum. Dia menyukai aroma bunga di kopinya.

Dia selalu merasa aneh karena ada kopi yang memiliki aroma bunga, tetapi memang begitu kopi dari Bajawa. Dan, dia tumbuh dewasa bersama minuman pahit tersebut. Dia menyeduhnya setiap pagi.

Pagi ini juga. Alice duduk di ruang makan yang dinding-dindingnya bata telanjang, di hadapan meja jati berpelitur terang yang lebih tua dari dirinya. Dia ditemani suara radio buatan tahun sembilan puluhan. Penyiar berceloteh tidak putus-putus. Alice mendengarkan sambil menyesap kopi dan membalik-balik partitur“Fur Elise”.

Halaman-halaman partitur tersebut sudah menguning dan di setiap barisnya terdapat coretan pensil yang hampir memudar berupa angka dan istilah-istilah musik seperti staccato, legato, atau fermata.

Senyum Alice berubah sendu. Jari-jarinya mengusap coretan di partitur dengan perlahan-lahan. Lalu, dia melempar pandangannya ke kabinet di salah satu sisi ruangan. Di sana, buku-buku berbaris rapi dan sebuah foto dengan pigura hitam berdiri bersandar ke dinding.

Foto kakeknya.

Kakeknya berambut putih, memiliki banyak kerutan di kening dan sekitar matanya. Dagunya tirus. Pipinya berbintik-bintik hitam. Tatapannya tampak sedikit lelah.

Tetapi, Alice menyukai tatapan kakeknya. Tatapan lelaki itu teduh dan memberi rasa tenang seperti “Raindrops” Chopin. Alice terbiasa pergi tidur ditemani tatapan lelaki itu saat dia masih kecil. Kini, dia merindukannya.

Alice bangkit dari tempat duduk. Dia menghampiri kabinet. Permukaan foto kakeknya tertutup debu tipis, maka dia membersihkan benda itu.

Dia berkata pelan kepada foto kakeknya, “Kakek tahu? Bulan ini aku mengajarkan ‘Fur Elise’.”
Benda itu tidak membalas, tentu saja. Sebuah foto tidak bisa membalas ucapan.

Alice melanjutkan, “Tapi aku tidak punya partitur yang bersih. Semua penuh coretan Kakek. Bagaimana aku akan mengajar?” Kali ini, dia memakai nada menggerutu dan memanyunkan mulutnya.

Kalau kakeknya masih ada, pasti lelaki itu hanya akan tertawa. Alice merindukan suara tawa kakeknya juga. Sudah dua tahun dia tidak mendengar suara tawa kakeknya.

Sudah dua tahun dia sendiri di rumah yang dinding-dindingnya bata telanjang tersebut.

Dia mendesah. Mendadak, dia disergap kesepian.

Pada saat yang bersamaan, penyiar di radio berkata, “Omong-omong, pagi ini agak mendung, ya? Suram. Supaya kalian semangat, saya akan putarkan ‘Wild Cherry’, oke? Tidak ada yang lebih asyik daripada memulai hari dengan mendengarkan bunyi gitar dan suara seksi Arsen Rengga.” Tepat setelah itu, radio memutar lagu rock yang dimaksud. Suara serak seorang pemuda beradu dengan bunyi drum dan jerit gitar listrik.

Alice diam. Untuk beberapa saat, dia membiarkan lagu tersebut menghidupkan ruang makan. Dia membiarkan suara serak si musisi mengobati kesepiannya. Tetapi, lalu dia mulai merasa gusar. Suara yang sama mulai mengingatkannya pada hal-hal yang tidak menyenangkan.

Dia cepat-cepat mengganti saluran radio. Seketika, lagu rock digantikan berita berbahasa Jepang. Alice tidak memahami bahasa Jepang, tetapi untuk saat ini dia lebih suka menyimak kata-kata asing.

Sambil mencibir, gadis itu melirik foto kakeknya. “Musiknya sekarang tidak bagus sama sekali. Iya, kan? Tidak berkarakter. Seperti bukan dia,” katanya, “empat tahun yang sia-sia.”

Ah. Empat tahun.

Alice tercenung.

Sudah selama itu, rupanya. Dia berbisik sedih dalam hati.

Song For Alice: First Chapter


Dia bisa merasakannya. Dia bisa mendengarnya. Luapan emosi yang ditujukan kepadanya. Histeria.

Suara-suara menyerukan namanya. Jerit liar yang mengandung kecintaan sekaligus keputusasaan. Tangan-tangan terulur berusaha menjangkaunya. Tubuh-tubuh melompat bersama-sama mengikuti musik. Wajah-wajah basah, entah oleh keringat atau air mata. Udara sesak, panas, dan bergemuruh, seakan-akan hendak menghancurkan ruang pertunjukan.

Di tengah-tengah luapan emosi tersebut, dia berdiri pada panggung besar, di antara cahaya-cahaya kuning dan biru yang menyorot ke arahnya, di hadapan lautan manusia. Satu tangannya memegang gitar. Tangannya yang lain menarik mikrofon mendekat ke mulutnya. Dia membisikkan lirik-lirik bengal,

“It’s to die for.
Wild cherry.
Soft lips.
Your kiss.”

Gitar lain meraung di belakangnya. Bas bergumam rendah. Drum dipukul keras dan cepat. Semakin lama semakin keras, semakin cepat, semakin menggila. Bunyi-bunyi itu tumpang-tindih dengan jerit liar tadi. Mendesak. Merasuk ke dalam dirinya seperti roh yang gusar.

Detak jantungnya memburu. Darahnya bergejolak. Dia menggerakkan kepala dan tubuhnya dengan sama keras dan cepat. Jari-jarinya menari di permukaan gitar miliknya. Alat musik itu melengking, bunyinya melejit ke langit-langit diiringi ledakan cahaya dan amukan drum.

Dan, dia tidak lagi sanggup membendung luapan emosi. Dia membanting gitarnya, menghentikan musik, membungkam jerit, menyisakan dengung panjang yang memekakkan telinga.

Dengung tersebut menguap perlahan-lahan. Ruang pertunjukan senyap sesaat. Tetapi, detik berikutnya, lautan manusia di hadapannya kembali menjerit. “Arsen!” Di telinganya, suara-suara menyerukan namanya tidak putus-putus.

Arsen menarik napas dengan susah payah. Pundaknya naik turun. Dia tersengal-sengal. Keringat mengalir deras di kening, leher, dan punggungnya. Kausnya kuyup. Tangan dan kakinya kehilangan tenaga.

Dia maju ke tepi panggung. Langkahnya sedikit gontai. Di sana, dia merentangkan kedua tangannya dan menengadah, menyambut sorak-sorai dan sorot cahaya yang panas. Matanya terpejam.Seringai menghiasi wajahnya.

Ah.

Dia benar-benar bisa merasakannya. Luapan emosi yang ditujukan kepadanya.

Sial.

Hidupnya sempurna. Dia bisa mati kapan saja dan tidak punya penyesalan apa-apa.

*