.

.
Showing posts with label writing tips. Show all posts
Showing posts with label writing tips. Show all posts

"Hibuk" yang Malang

Hari ini, pagi-pagi, saya terpaksa mengoceh bahasa lewat twitter. Pasalnya, sejumlah pembaca ribut masalah "hibuk" di novel-novel saya. Mereka menyebut itu sebagai kesalahan ketik.

Sebagai penulis, sebenarnya, saya jarang menanggapi kritik. Saya lebih suka membiarkan novel saya membela dirinya sendiri--atau dibela pembaca lain. Tetapi, kali ini, saya merasa perlu berbicara. Karena, yang saya bela bukan novel saya, melainkan "hibuk" yang malang. 

Ya. Dia perlu dibela. Kalau tidak, dia akan dianggap sebagai wujud kesalahan ketik secara terus-menerus. Lalu, lama-lama, kita semua memercayai itu. Dan, pada akhirnya, kita menyingkirkannya. Dia punah. Saya ingin mencegah dia punah.

I Yam What I Yam: Menulis Sebagai Ekspresi

Pernah seorang penulis pemula bertanya kepada saya, “Buku seperti apa yang sedang laris saat ini? Apa trennya?”

Saya menjawab, “Novel bernuansa Korea, mungkin. Tapi, yang paling laris dari masa ke masa–menurut saya–adalah novel-novel semi biografi yang inspiratif seperti Laskar Pelangi dan Negeri Lima Menara. Itu trennya.“ Saya juga bertanya balik, “Kenapa, memangnya?”

Penulis pemula itu mengaku, dia berniat menulis novel yang senada dengan novel-novel laris tersebut.

Saya pikir, oke, silakan saja. Siapa pun pasti meninginkan karyanya laku di pasaran. Siapa pun mau sesuatu yang ditulisnya berbulan-bulan dengan susah payah disukai banyak pembaca. Tetapi, secara pribadi, saya punya beberapa alasan untuk tidak menulis berdasarkan tren.

Hanna & Kai


Saya ingin bercerita sedikit tentang naskah terbaru yang selesai ditulis akhir Juni lalu. Belum ada judul. Untuk sementara, saya menyebutnya 'Hanna & Kai'. Naskah ini contoh bahwa ide bukan ditunggu, melainkan dicari.

Dari Cerpen Menjadi Novel

Sebenarnya, ini artikel yang saya buat beberapa waktu lalu atas permintaan penerbit sebagai bentuk kerjasama kami dengan media tertentu (saya lupa apa). Saya tidak tahu persis apakah ini sudah dimuat di media tersebut. Tetapi, karena ini sudah cukup lama ditulis, saya berasumsi tidak apa-apa untuk membagikannya lewat blog. Semoga ini bisa membantu dan menginspirasi teman-teman yang senang menulis.

--------------

(Tips) Melibatkan Lima Indra Dalam Deskripsi

Para penulis, khususnya yang jam terbangnya belum banyak, sering berkutat dengan detail visual ketika sedang menulis deksripsi. Mereka melupakan hal-hal tersembunyi di balik apa-apa yang terlihat oleh mata. Yang patut kita ingat: apakah sebuah tempat hanya dijejali dengan apa-apa yang kita lihat? Tidak. Sebuah tempat selalu mengandung bau, bunyi-bunyian, rasa, dan kesan.

Dengan melibatkan lebih dari satu indra dalam deskripsi, tulisan kita akan lebih punya kekuatan untuk mengajak pembaca hadir ke tempat atau situasi yang kita sampaikan. Ia tidak hanya melihat sebuah ruangan, tetapi juga mencium bau ruangan itu, mengecap udara di sana, merasakan ruangan itu, dan mendengar bunyi apa saja yang masuk ke telinganya.

Berikut latihan tujuh langkah memperkuat deskripsi dengan melibatkan lima indra.

(Tips) A Conversation with Miaa

Hari ini saya iseng membuka folder lama dalam komputer dan melihat-lihat sejumlah file. Saya menemukan catatan menarik tentang obrolan singkat yang terjadi antara saya dan Miaa--salah satu tokoh 'Metropolis'. Obrolan itu imajiner, saya ciptakan ketika pada satu titik penulisan saya merasa tidak mengenal Miaa dengan baik--apa motivasinya dan di mana posisinya dalam konflik.

Saya rasa teknik ini berkaitan dengan pengembangan karakter yang diposting sebelum ini, jadi saya ingin membagikannya kepada teman-teman. Oh, omong-omong, ini mengandung spoiler. Bagi yang belum membaca 'Metropolis', kalian sudah diperingatkan.

(Tips) Getting to Know Your Character

Aih, berapa lama saya tidak menulis sesuatu di blog ini? Belakangan saya memang benar-benar sibuk. Selain mempersiapkan terbitnya 'Memori' yang telah rilis awal bulan Mei, saya fokus mengedit novel berikutnya. Kini, setelah dua urusan itu selesai, saya punya sedikit waktu luang untuk berbagi beberapa tips menulis.

Saya ingin bercerita tentang penokohan. Seringkali, kita menemukan tokoh-tokoh yang, well, klise dalam sebuah novel. Banyak penulis, semoga saya tidak termasuk, kesulitan menghadirkan sebuah tokoh yang utuh, yang terasa nyata dan mampu melekat dalam benak pembaca untuk waktu yang lama.

Sebenarnya, ada beberapa panduan sederhana untuk mengembangkan tokoh dalam novel. Saya telah mempraktikkan ini dan ingin menyarankannya kepada teman-teman.

(Tips) Creating An Outline For Novel

Hai, hai! Saatnya berbagi tips menulis.

Kali ini saya ingin membahas outline, salah satu elemen kesukaan saya dalam menulis novel. Saya sering sekali mendapat pertanyaan dari teman-teman, apakah saya membuat outline sebelum menulis novel. Jawaban saya adalah: ya, selalu. Bahkan, saya tidak bisa menyelesaikan sebuah novel tanpa outline.

Oke, pertama, apa itu outline? Bagi saya, outline adalah rencana. Saya selalu membuatnya seperti ini:

(Tips) Menemukan Gagasan Menulis

oleh AS Laksana dan Yusi Avianto Pareanom
(dengan sedikit penambahan)

Seberapa banyak kau menulis (taruhlah, cerpen fiksi)? Seberapa cepat? Jika kau berada dalam situasi di mana kau harus menulis satu cerpen setiap satu hari, apa saja yang akan kau tulis selama satu bulan? Itu berarti, kau harus menulis 30 cerpen dan kebanyakan orang akan berkata, "Aih... kurasa, aku tidak akan bisa melakukannya," atau dia akan mencoba melakukan itu tapi bertahan hanya beberapa hari saja setelah di hari ketujuh dia kehabisan ide.

Pernah bertanya, dari mana sebenarnya gagasan-gagasanmu berasal?

Tiga Belas atau Tigabelas?

Pertanyaan di atas, yang kerap dilontarkan oleh orang yang tidak punya buku panduan EYD dan KBBI, kali ini berasal dari saya.

Di buku panduan EYD, tiga belas dituliskan secara terpisah, yakni seperti ini: tiga belas. Selama ini saya memakai aturan main tersebut dan baru terusik saat membaca Bilangan Fu. Ayu Utami menuliskan tiga belas dengan cara seperti ini: tigabelas. Tidak hanya itu. ia juga menuliskan orang tua sebagai orangtua, mata air sebagai mataair, dan seterusnya. Saya bukan fans Ayu Utami tapi hal ini menarik.

Tapi, Tetapi

Kata [tapi] tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia jaringan. Entah bagaimana nasib kata yang sama dalam KBBI cetak edisi keempat, namun apa yang bisa kita harapkan? KBBI cetak edisi keempat tidak mencakup kata [gudang].

ta·pi ? tetapi

Close Reading


Berawal dari membaca tulisan Wawan Eko Yulianto di Multiply-nya, saya ingin mengobrol sesuatu tentang close reading. Dalam tulisan itu, mas Wawan (begitu saya biasa memanggil beliau) membahas mengenai minimnya kritikus sastra yang ada saat ini (dalam tulisan beliau, khususnya di Jawa Timur) sementara penulis-penulis muda berbakat justru sedang meningkat pesat, terlihat dari terpampangnya karya-karya sejumlah penulis tersebut dalam banyak media masa setiap minggunya. Lalu apa korelasinya dengan close reading?

Writing "KISS"


It was simply I want to share my experience when I wrote my newest short story : KISS, which I posted at kemudian.com.

Place was one of the most major variable in my stories. Probably, because I am an architect. In most of my works, I used places that are really exist. A cafe, a road, an area, a boutique, a landmark etc. I just loved to detail settings in my works. It also happened in my newest short story : KISS