Hari ini, pagi-pagi, saya terpaksa mengoceh bahasa lewat twitter. Pasalnya, sejumlah pembaca ribut masalah "hibuk" di novel-novel saya. Mereka menyebut itu sebagai kesalahan ketik.
Sebagai penulis, sebenarnya, saya jarang menanggapi kritik. Saya lebih suka membiarkan novel saya membela dirinya sendiri--atau dibela pembaca lain. Tetapi, kali ini, saya merasa perlu berbicara. Karena, yang saya bela bukan novel saya, melainkan "hibuk" yang malang.
Ya. Dia perlu dibela. Kalau tidak, dia akan dianggap sebagai wujud kesalahan ketik secara terus-menerus. Lalu, lama-lama, kita semua memercayai itu. Dan, pada akhirnya, kita menyingkirkannya. Dia punah. Saya ingin mencegah dia punah.


