.

.
Showing posts with label Orange. Show all posts
Showing posts with label Orange. Show all posts

Orange Eco Bag

Saya menyukai tas. Bukan tas desainer, melainkan tas sederhana berbahan kanvas atau belacu yang bisa dipakai untuk menyimpan belanjaan saya saat ke pasar atau ke toko buku. Jadi, beberapa bulan lalu, setelah menyelesaikan sketsa Faye dan Rera, saya iseng membuat tas kanvas bergambar mereka. Hasilnya ternyata cantik sekali. Sekarang, ke mana-mana, saya membawa tas ini.

Banyak teman yang ingin memilikinya juga saat saya memperlihatkannya di Instagram. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjadikan tas ini merchandise resmi Orange. Untuk tas yang diproduksi banyak, saya menggunakan tone Brannan (tas dalam gambar di bawah menggunakan tone asli), karena harus menyamakan dengan bonus kartus pos yang akan dibagikan kepada teman-teman yang membeli Orange bertanda tangan di toko-toko buku online.

Tas ini segera bisa dipesan (pre order) di blog saya. Tunggu, ya!


Orange (2015)

Bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain.

‘Dikuncinya pintu di belakangnya, lalu dia bersandar lemas pada pintu tersebut. Dia seperti dipaksa menyadari kenyataan. Konyol rasanya, bercinta dengan Diyan di dalam kamar yang penuh dengan kenangan mengenai Rera.

Ah, dirinya kesal setengah mati.’

Faye ditunangkan. Tanpa dasar cinta dan murni karena alasan bisnis. Calon tunangannya, Diyan, adalah eligible bachelor yang paling diinginkan di Jakarta. Lelaki yang tidak bisa melepas kenangan masa lalunya dengan seorang model cantik blasteran Prancis.

Harusnya hubungan mereka sebatas ikatan artifisial. Tapi cinta, ego dan ambisi yang rumit mendorong mereka ke situasi yang lebih emosional. Situasi yang mengharuskan mereka memilih dan melepaskan.

Pertanyaannya: apa... dan siapa?

Old World

Faye

Sejak kecil, barangkali sejak belum bisa mengingat apa-apa, saya sudah senang bercerita. Awalnya, saya bercerita secara lisan, lalu memakai gambar, dan baru tujuh tahun ini menulis.

Saya berasal dari generasi yang menyaksikan permulaan manga dan anime masuk ke Indonesia (ya, sayangnya, saya sudah tua). Kami pembaca pertama Candy-Candy, penonton pertama Doraemon, pendengar pertama L'Arc~en~Ciel. Jadi, sewaktu saya memakai gambar untuk bercerita, hal-hal tersebut tampak jelas.

Ada masanya saya menjadi mangaka--tentunya mangaka amatir. Bersama beberapa penggila budaya Jepang lainnya, saya membentuk kelompok seni. Tetapi, pada dasarnya, kami membuat komik. Masing-masing memiliki cerita, tokoh, dan gaya sendiri-sendiri. Anak-anak lelaki beraliran Amerika, anak-anak perempuan beraliran Jepang. Tetapi, intinya, kami sama-sama membagi selembar kertas A4 menjadi panel-panel, mengisinya dengan gambar, lalu menyelipkan kotak narasi atau balon dialog. Dan, kami sempat menerbitkan komik indie.

Dunia itu saya tinggalkan saat lulus sekolah. Lebih dari sepuluh tahun saya tidak bersentuhan dengan dunia itu lagi. Kini, tiba-tiba, saya merindukannya. Hem, tidak tiba-tiba, sebenarnya. 

The Girl Behind the Lens: II


Hari ini kulihat seorang gadis duduk di atas dak rumah susun kami. Gadis itu bertubuh mungil, mengenakan celana jeans dan sweater hijau. Kulitnya kecoklatan, rambutnya merah seperti terbakar matahari. Dia memangku satu plastik jeruk mandarin. Sepasang tangannya menggenggam sebuah kamera.