.

.
Showing posts with label piece of arts. Show all posts
Showing posts with label piece of arts. Show all posts

Vintage 2019 Calendar



Belakangan ini saya kembali senang bermain dengan Photoshop. Saya mengumpulkan gambar-gambar digital yang bernuansa usang dan lusuh, lalu menggabungkan mereka menjadi gambar baru. Lembar notes, label, tag, kartu pos, dan macam-macam. 

Saya juga kembali menyimpan kenangan lewat jurnal. Beberapa bulan lalu, saya ke Jepang dan membawa pulang Traveler's Notebook buatan Midori yang sedang digemari. Jurnal tersebut sempat mendekam lama di rak. Baru tiga atau empat pekan ini akhirnya saya buka dan isi. Saya berencana akan terus mengisi jurnal.

Nah. Mendekati 2019, saya membuat kalender. Untuk keperluan jurnal, tentu saja, Semula, saya tidak terpikir demikian. Saya justru ingin membeli desain digital yang siap dipakai atau mengambil desain yang dibagikan secara cuma-cuma di banyak blog. Lebih mudah, jelas. Tetapi, saya tidak menemukan nuansa yang pas dengan gaya saya dalam mengisi jurnal.

Jika ada di antara kalian yang juga menyukai desain vintage dan ingin menyelipkan kalender ini di jurnal, silakan mengunduhnya di sini.

Ukuran tiap kalender 8cm x 12cm, disesuaikan dengan Traveler's Notebook. Tetapi, tetap bisa digunakan untuk jurnal apa saja. Saya sudah menyusunnya di kertas A4 agar bisa langsung dicetak.

Untuk kalian yang membutuhkan file individu tiap kalender dan barangkali ingin mencetaknya sedikit lebih besar (karena kualitas aslinya tinggi, 300 dpi), bisa ke sini.

Semoga bermanfaat dan kalian menyukainya!

Glaze: Art on Plate



Sedikit cerita tentang ilustrasi dalam Glaze. Salah satu hal menarik yang saya kerjaan dalam persiapan penerbitan buku ini.
Seperti buku-buku sebelumnya, saya menyiapkan ilustrasi. Tetapi, tidak seperti buku-buku sebelumnya, ada banyak dan banyak dan banyak ilustrasi dalam Glaze. Bisanya, saya hanya menyiapkan beberapa. Ada sekitar sepuluh ilustrasi di Orange (saya lupa jumlah pastinya), enam di Last Forever, dan tiga di Angel in The Rain. Di Glaze, ada dua puluh empat!

Sebenarnya, semula, saya tidak berencana membuat ilustrasi. Saya ingin sedikit santai di buku yang satu ini. Lalu, Christian Simamora bertanya kepada saya, "Kamu mau bikin sendiri ilustrasi buat Glaze, nggak?" karena menurutnya ilustrator mereka kurang cocok untuk gaya tulisan saya. Saya--yah--tidak pernah bisa menolak Christian. 

Pembicaraan mengenai ilustrasi tidak berhenti di situ. Kami tidak ingin ilustrasi biasa. Lalu, setelah obrolan panjang di WhatsApp dan tukar-menukar puluhan referensi, muncul ide ini: ilustrasi di permukaan gerabah. Karena, salah satu tokoh di Glaze adalah seniman keramik. Ilustrasi-ilustrasi itu akan menjadi seperti kumpulan benda pameran di galeri. Dan, kami sama-sama bersemangat dengan ide tersebut.

Saya mendapat waktu satu bulan, dengan asumsi saya mampu menyelesaikan satu ilustrasi setiap satu hari. Yah, satu bulan yang sibuk, melelahkan, tetapi asyik karena mendapat pengalaman baru. Di akhir proses, saya sangat dan sangat dan sangat menyukai hasilnya. Bagaimana menurut kalian?

Saat ini saya sedang mencari ide untuk memanfaatkan ilustrasi ini. Sepertinya asyik kalau bisa membuat piring sungguhan dengan ilustrasi ini di permukaannya. Sayangnya, sulit menemukan vendor yang bagus. Saya juga sempat berpikir untuk membuat kantong koin berbentuk bulat bergambar ilustrasi ini. Mungkin lucu, ya. Kalau kalian ada ide, silakan komentar di bawah ini. Siapa tahu, kita bisa mewujudkannya.

Orange Eco Bag

Saya menyukai tas. Bukan tas desainer, melainkan tas sederhana berbahan kanvas atau belacu yang bisa dipakai untuk menyimpan belanjaan saya saat ke pasar atau ke toko buku. Jadi, beberapa bulan lalu, setelah menyelesaikan sketsa Faye dan Rera, saya iseng membuat tas kanvas bergambar mereka. Hasilnya ternyata cantik sekali. Sekarang, ke mana-mana, saya membawa tas ini.

Banyak teman yang ingin memilikinya juga saat saya memperlihatkannya di Instagram. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjadikan tas ini merchandise resmi Orange. Untuk tas yang diproduksi banyak, saya menggunakan tone Brannan (tas dalam gambar di bawah menggunakan tone asli), karena harus menyamakan dengan bonus kartus pos yang akan dibagikan kepada teman-teman yang membeli Orange bertanda tangan di toko-toko buku online.

Tas ini segera bisa dipesan (pre order) di blog saya. Tunggu, ya!


Old World

Faye

Sejak kecil, barangkali sejak belum bisa mengingat apa-apa, saya sudah senang bercerita. Awalnya, saya bercerita secara lisan, lalu memakai gambar, dan baru tujuh tahun ini menulis.

Saya berasal dari generasi yang menyaksikan permulaan manga dan anime masuk ke Indonesia (ya, sayangnya, saya sudah tua). Kami pembaca pertama Candy-Candy, penonton pertama Doraemon, pendengar pertama L'Arc~en~Ciel. Jadi, sewaktu saya memakai gambar untuk bercerita, hal-hal tersebut tampak jelas.

Ada masanya saya menjadi mangaka--tentunya mangaka amatir. Bersama beberapa penggila budaya Jepang lainnya, saya membentuk kelompok seni. Tetapi, pada dasarnya, kami membuat komik. Masing-masing memiliki cerita, tokoh, dan gaya sendiri-sendiri. Anak-anak lelaki beraliran Amerika, anak-anak perempuan beraliran Jepang. Tetapi, intinya, kami sama-sama membagi selembar kertas A4 menjadi panel-panel, mengisinya dengan gambar, lalu menyelipkan kotak narasi atau balon dialog. Dan, kami sempat menerbitkan komik indie.

Dunia itu saya tinggalkan saat lulus sekolah. Lebih dari sepuluh tahun saya tidak bersentuhan dengan dunia itu lagi. Kini, tiba-tiba, saya merindukannya. Hem, tidak tiba-tiba, sebenarnya.