.

.
Showing posts with label Last Forever. Show all posts
Showing posts with label Last Forever. Show all posts

Last Forever: Book Jacket


Saya dan GagasMedia menyiapkan edisi terbatas Last Forever. Edisi ini disertai jaket buku yang didesain khusus. Kami menampilkan beberapa ilustrasi yang ada dalam buku di jaket tersebut. Bahannya kain. Gambar dicetak digital sehingga hasilnya cantik.

Ide membuat jaket buku muncul dari keinginan saya menghadirkan merchandise unik seperti yang saya hadirkan saat Orange terbit ulang. Tetapi, saya ingin merchandise yang berbeda dan jaket buku jarang ditemukan.

Jika ingin memilikinya, teman-teman bisa memesan di sini. Ada tiga desain.

Last Forever: Lana Lituhayu Hart

Lana Lituhayu Hart 

Lana Lituhayu Hart lahir ketika saya bertanya-tanya, seperti apakah perempuan yang bisa membuat seorang Samuel Hardi bertekuk lutut.

"Dia harus sempurna," kata seorang teman, "kalau tidak, Samuel hanya akan menyukainya secara parsial, lalu meninggalkannya setelah bosan." Teman saya benar.

Last Forever: Samuel Hardi

Samuel Hardi
Pembaca Montase pasti mengenal Samuel Hardi, sineas dokumenter berkelas internasional yang punya masalah kepribadian. Sejak pertama, saya sudah begitu menyukainya. Bukan rahasia lagi, saya selalu jatuh hati kepada lelaki sinis dan genius. Itu kelemahan terbesar saya. Tetapi, Samuel berbeda. Dia memiliki sisi-sisi buruk yang menjadikannya tidak ideal. Itu sebabnya saya begitu menyukainya.

Ada rasa ingin yang kuat untuk menuliskan sesuatu mengenai dia. Supaya dia menjelma utuh, supaya saya bisa lebih dekat dengannya. Pada saat yang bersamaan, ada rasa cemas. Saya takut pembaca tidak akan menerimanya karena sisi-sisi buruk tadi. Jadi, saya menahan rasa ingin itu dan mulai berpikir barangkali saya tidak akan pernah bertemu lagi dengannya.

Last Forever

Bagaimana jika memiliki
hanya membuat kita saling melukai?

"Seharusnya, aku tidak boleh mengharapkanmu. Seharusnya, aku tahu diri. Tapi, Lana... ketakutanku yang paling besar adalah... aku kehilangan dirimu pada saat aku punya kesempatan memilikimu."
Samuel

"Untuk berada di sisimu, aku harus membuang semua yang kumiliki. Duniaku. Apa kau sadar?"
Lana

Dua orang yang tidak menginginkan komitmen dalam cinta terjerat situasi yang membuat mereka harus mulai memikirkan komitmen. Padahal, bagi mereka, kebersamaan tidak pernah menjadi pilihan. Ambisi dan impian jauh lebih nyata dibandingkan cinta yang hanya sementara.

Lalu, bagaimana saat menyerah pada cinta justru membuat mereka tambah saling menyakiti? Berapa banyak yang mampu mereka pertaruhkan demi sesuatu yang tidak terduga?

Meet Samuel & Lana: Dua

Barangkali, hanya Lana yang masih bisa tersenyum lebar setelah melalui dua puluh enam jam penerbangan yang melelahkan. Penumpang-penumpang lain tampak kusut dan kehabisan tenaga. Dia justru berwajah cerah. Dia keluar dari pesawat sambil melambai ramah dan berterima kasih kepada pramugari yang memberinya ekstra anggur tadi. Langkahnya gegas dan mantap. Tubuhnya bergerak gesit mencari ruang kosong di antara keriuhan lobi bandara.

Dia terbiasa melakukan perjalanan. Dan, dia menyukainya. Hidupnya adalah perjalanan. Sejak usianya masih dua puluh tahun, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat-tempat asing di bagian lain dunia daripada di tempat tinggalnya. Dia bisa pergi berbulan-bulan ke India atau Burma, tetapi tidak pernah betah berlama-lama di Washington.

Baginya, Washington hanya pemberhentian sementara; peristirahatan yang akan dia datangi saat ingin meluruskan kaki, yang akan dia tinggalkan lagi begitu dirinya siap menempuh perjalanan baru.

Saat ini, dia sedang ingin meluruskan kaki. Yah, sekaligus menyelesaikan pekerjaan, membalas kebaikan institusi yang membiayai perjalanan dan hidupnya.

Meet Samuel & Lana: Satu

Aku tidak ingin membangunkanmu.
Terima kasih untuk malam yang luar biasa.

Untuk kesekian kalinya, Samuel membaca pesan singkat itu. Dia tidak tahu persis perasaan apa yang sedang menyesaki dadanya. Terkejut, kecewa, atau marah? Yang jelas, bukan senang karena dia tidak senang sama sekali.

Saat ini, dia duduk di tepi tempat tidur, dalam kamarnya yang terang dan hangat, hanya mengenakan celana piama sementara tubuh bagian atasnya terekspos. Dia diam lama. Punggungnya melengkung ke depan. Kedua sikunya bertumpu di lutut. Satu tangannya menjulur lemas ke lantai, satu yang lain menggenggam secarik kertas kecil yang ditemukannya pada kepala lampu bacanya beberapa menit yang lalu.

Beberapa menit yang lalu, dia terbangun oleh serbuan sinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat jendela. Dia mengerang pelan dan menutupi matanya dengan tangan. Setelah dia tidak lagi tersilau, tangannya turun perlahan-lahan. Pandangannya yang semula buram berubah jelas. Dan, dia melihat sisi kanan tempat tidurnya kosong.

Lana.

Dia bergumam memanggil perempuan itu.

Meet Samuel & Lana: Prolog

Dia menyelinap turun dari tempat tidur.

Perlahan-lahan, ujung salah satu kakinya menyentuh permukaan lantai kayu yang bersalur halus. Lantai kayu itu berderik. Dia pun berhenti, lalu cepat-cepat berpaling kepada lelaki yang berbaring di sebelahnya.

Tidak ada reaksi. Mata lelaki itu masih terpejam. Napasnya tetap teratur, satu irama dengan gerak dadanya yang naik-turun. Wajahnya sangat tenang, sebagian terkena sinar lemah kekuning-kuningan dari lampu baca yang merunduk di atasnya, sebagian tertutup bayang-bayang.

Dan, karena dia sedang menatap wajah tersebut, dia mengambil waktu sejenak untuk memperhatikan setiap detail baik-baik. Perempuan mana yang tidak? Setiap detail itu memikat, menggoda, membuatnya enggan pergi dan malah ingin kembali ke dalam selimut, ke sepasang lengan yang kokoh dan tubuh yang hangat.

Tetapi, dia harus pergi.

Sekarang.

Satu dan Dua Hal (atau Lebih)

Lama tidak mengisi blog, saya ingin mengabari beberapa hal. Semacam update status basa-basi. Semata-mata supaya ada yang bisa dibaca di sini. Beberapa hal itu ada yang asyik, ada yang--katakan saja--tidak terlalu asyik. Mari kita mulai dari naskah terakhir yang saya tulis.

Naskah ini berkisah tentang Samuel Hardi. Pembaca Montase mengenal dia. Sudah lama saya ingin menjadikan dia tokoh utama dan akhirnya kesampaian juga. Pastinya, naskah ini diperuntukkan bagi pembaca dewasa karena--yah--kita membicarakan Samuel Hardi. Yang mungkin tidak disangka-sangka bahkan oleh saya sendiri adalah genre naskah ini. Drama. Sedikit mengarah pada drama keluarga. Sebelumnya, saya selalu mengira kisah tentang Samuel Hardi akan murni roman. Tetapi, itu sebabnya menulis menyenangkan. Dalam prosesnya, saya sering menemukan kejutan.