oleh Lisa Febriyanti
dari Perkosakata 2009
Saya menyebutnya cerpen satu ketika. Ini karena penulis merangkai kisah yang terjadi pada satu momen yang pendek, bukan rentetan peristiwa panjang dengan awal dan akhir. Cerpen jenis ini kadang tak berawal, kadang membiarkan akhir lewat begitu saja tak terduga. Ia hanya punya momentum yang ingin dibagi kepada pembacanya. Sepanjang pengetahuan saya, Dewi ”Dee” Lestari piawai bermain dengan cerpen jenis ini.