.

.
Showing posts with label reviews. Show all posts
Showing posts with label reviews. Show all posts

(Review) Cerpen Satu Ketika

Resensi untuk Kurasa, Tidak Ada Cinta yang Lebih Besar dari Milikku 
oleh Lisa Febriyanti
dari Perkosakata 2009

Saya menyebutnya cerpen satu ketika. Ini karena penulis merangkai kisah yang terjadi pada satu momen yang pendek, bukan rentetan peristiwa panjang dengan awal dan akhir. Cerpen jenis ini kadang tak berawal, kadang membiarkan akhir lewat begitu saja tak terduga. Ia hanya punya momentum yang ingin dibagi kepada pembacanya. Sepanjang pengetahuan saya, Dewi ”Dee” Lestari piawai bermain dengan cerpen jenis ini.

(Review) Resensi 'Gadis Kecil'

Resensi untuk Gadis Keciloleh Calvin Michel Sidjaja
dari Perkosakata 2009

Tema cerita ini adalah realitas sosial yang ada di sekitar kita. Fenomena anak-anak jalanan yang dieksploitasi oleh orang tua mereka untuk mendapatkan simpati dari orang lain bukanlah hal baru, cerpen ini mengetuk lagi pembaca tentang mereka.

(Review) Resensi "Hari Ini Kita Berpisah, Rani"

Resensi untuk Hari Ini Kita Berpisah, Rani
oleh Lisa Febriyanti
dari Perkosakata 2008

Hari Ini Kita Berpisah, Rani. Sebuah judul yang manis untuk menggambarkan rasa perih perpisahan. Merupakan ungkapan hati berbalas dari dua anak manusia yang memendam rasa kasih. Cinta, tak selamanya terukir indah. Cinta, mau tak mau menyertakan kepedihan di dalamnya. Dan pedih inilah yang tertangkap dalam tulisan Hari Ini Kita Berpisah, Rani.

(Review) Kematian Bisa Saja Indah

Resensi untuk Hari Ini Kita Berpisah, Ranioleh Zabidi Ibnoe Say
dari Perkosakata 2008

Dalam persepsi umum kematian sering digambarkan berwajah kelam. Misalnya saja cerita-cerita dalam sinetron kita, yang amat menjemukan itu. Jerit tangis, histeria dan simbol-simbol melankoli lainnya. Hal ini dimungkinkan karena kematian bagi kebanyakan orang adalah hal yang menakutkan sekaligus mencekam. Karena maut dipahami sebatas akhir dari setiap bentuk kehidupan. Karena kematian bagi seseorang berarti terputus segala ikatan keduniaan, hilangnya ikatan-ikatan emosi, seperti cinta, persahabatan, harapan, keinginan juga bentuk-bentuk materi lainnya. Mungkin hanya di kalangan kaum sufi kematian dihadapi dengan berani sebagai sebuah prosesi menuju keabadian.

(Review) Cinta Yang Melahirkan Jejak

Resensi untuk Monet (KISS)oleh Zabidy Ibnoe Say
dari Perkosakata 2008

Secara keseluruhan sebagai sebuah karya prosa, Monet cukup menarik, menyentuh juga menggelitik. Pembacapun langsung dibawa dalam diskripsi ruang sebuah galery Tate Modern di Thames, London. Cerita kemudian bergulir dari lantai satu ke lantai berikutnya, dari ruang pamer satu ke ruang pamer lainnya, seiring dengan dialog dua tokohnya. Kedua tokohnyapun tak bernama hanya memakai kata aku (orang pertama) dan Kau/kamu (orang kedua).

(Review) Ngobrol Tentang Monet

Resensi untuk Monet (KISS)oleh Isman H. Suryaman
dari Perkosakata 2008

Karya ini ditulis dengan baik. Penulis tampak sudah sangat berpengalaman dalam menulis cerita. Penggambaran latar dan karakter menggunakan cara menunjukkan, alih-alih memberitahukan (show, not tell). Semua elemen yang menjual terangkai dengan manis: ambisi, cinta, keputusasaan, hingga kebas. Dan ini sebenarnya sudah cukup untuk menjual karya ini.

(Review) BIDADARI YANG MENGEMBARA : Rumor Absurd Seputar Alit

“INI cerita yang kurangkai sendiri dari penggalan-penggalan omongan orang tentang Alit ...,” begitu ungkap narator dalam salah satu cerpen A.S. Laksana di buku Bidadari Yang Mengembara (2004).

‘Penggalan-penggalan omongan orang’ ingin saya generalisir sebagai ‘rumor’, sebuah kata serapan dari bahasa Inggris, rumour. Menurut Oxford Advanced Leaner’s Dictionary of Current English, rumour diartikan sebagai berikut:

general talk, gossip, hearsay, (statement, report, story) which cannot be verified and is of doubtful accuracy.

(Review) AIR KALDERA : Tragedi dalam Teks Dekonstruksi


GAMANG adalah emosi yang muncul mendominasi saat saya membaca cerpen-cerpen karya Joni Ariadinata dalam bukunya, Air Kaldera (2000). Di dalam tulisan-tulisan Joni tidak ada hitam-putih, gelap-terang, benar-salah atau oposisi biner lainnya yang kerap muncul mewakili pemikiran-pemikiran modern. Tidak juga dibiarkan tercipta pemaknaan, bentuk dan struktur yang jelas. Semua tampil abu-abu yang, sesungguhnya, tidak bisa juga saya yakini apakah memang dimaksudkan sebagai abu-abu oleh penulis. Karena semua hadir serba tidak pasti.