.

.
Showing posts with label Walking After You. Show all posts
Showing posts with label Walking After You. Show all posts

Walking After You: An dan Ju


Beberapa teman menanyakan sketsa Julian kepada saya. Ternyata banyak yang menyukai si amat-terlalu-kelewat serius ini. Padahal, dahulu saya sempat khawatir pembaca tidak akan menerima lelaki yang pemalu dan tidak berpengalaman dengan perempuan sama sekali seperti dia. Saya lega begitu menerima banyak salam gemas yang ditujukan untuk Julian. Bagi saya sendiri, dia tokoh yang asyik untuk dijaili. Saat An menggodanya dalam Walking After You, sebenarnya saya yang sedang menggodanya. Dia mainan baru saya.

Nah, kembali ke sketsa. Akhirnya, pada satu malam ketika saya diserang insomnia, sketsa itu jadi. Baru sebatas sketsa pensil. Rencananya, saya akan mewarnainya dengan cat air seperti yang sudah-sudah, tetapi entah kapan.

Di sini, Julian bersama An. Saya pikir, ekspresi malu-malunya adalah hal paling menarik dari dirinya. Supaya dia malu-malu, saya butuh An. Rambut Julian dibuat halus dan jatuh. Matanya sedikit sipit. Garis wajahnya lembut. Dan, alisnya cantik. Kalau diwarnai nanti, kulitnya pucat dan bibirnya kemerah-merahan.

Dia manis, kan. 

Walking After You: Virtual Book Tour


Halo! Ada yang seru menjelang tutup tahun 2014.

Untuk menyambut kelahiran tiga buku baru mereka, salah satunya Walking After You, GagasMedia mengadakan Virtual Book Tour. Banyak penulis dan blogger yang berpartisipasi dalam program ini. Mereka akan beramai-ramai membahas buku ketujuh saya, juga buku Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri Bernard Batubara dan Happily Ever After Winna Efendi.

Tema utama yang diangkat untuk program ini adalah "Tiga Cerita Cinta" (hashtag Twitter #3CeritaCinta). Setiap buku akan memiliki tema khusus sendiri. Untuk Walking After You, temanya  adalah "Melepas Masa Lalu".

Program ini berlangsung sejak 26 Desember 2014 hingga 30 Desember 2014. Berikut ini adalah daftar penulis/ blogger, alamat situs mereka, dan waktu untuk Virtual Book Tour Walking After You.

Jumat, 26 Desember 2014
Kata Editor tentang Cinta, akan dituturkan oleh Widyawati Oktavia di Penjual Kenangan (Twitter @widya_oktavia).

Sabtu, 27 Desember 2014
Kata Perempuan tentang Cinta, akan dituturkan oleh Theoresia Rumthe di Perempuan Sore (Twitter @perempuansore).

Minggu, 28 Desember 2014
Kata Laki-laki tentang Cinta, akan dituturkan oleh Falen Pratama di Menulis Untuk Mengabadikanmu (Twitter @falenpratama).

Senin, 29 Desember 2014
Kata #GagasAddict tentang Cinta, akan dituturkan oleh Yuliono di Funny. Smart. Single. Crunchy (Twitter @fiksimetropop).

Selasa, 30 Desember 2014
Review 3 Cerita Cinta, akan dituturkan oleh Dian S. Putu Amijaya di Jejak Langkahku (Twitter @dianputuamijaya).

Yuk, ikuti Virtual Book Tour Walking After You. Follow GagasMedia dan semua penulis/ blogger di atas, yah. Jangan sampai ketinggalan tulisan seru mereka tentang Tiga Cerita Cinta.

Walking After You: Excerpt

Aku masih ingat kala Arlet memberi tahu aku rahasia kecil miliknya.

Hari itu Kamis. La Spezia libur. Aku sedang asyik menonton The Naked Chef sementara Arlet tadinya sedang membaca sebuah novel cengeng. Tepat ketika Jamie Oliver akan mengiris steiknya yang setengah matang, Arlet lompat menubruk tubuhku, lalu merangkul lenganku erat-erat. Kepalanya dia lesakkan ke pinggangku.

‘Apa-apaan, sih, Arlet?’

Arlet tidak langsung menjawab. Cengkeraman jemarinya menyakiti permukaan kulitku. Perempuan itu menarik napas dalam-dalam, lalu berkata lirih, ‘Aku menyukainya, An.’

‘Siapa?’ Aku menoleh kepadanya.

Dia menengadah sehingga pandangan kami bertemu. Kedua pipinya luar biasa merah. Matanya berkaca-kaca. ‘Jinendra,’ bisiknya. Lalu, dia kembali menunduk, bersembunyi dari tatapanku. Kini, tangannya gemetar.

Aku tertegun.

Walking After You: Gemelli


"Gemelli" adalah kata Italia untuk kembar. 

Sejak masih kecil, saya sudah terobsesi. Saya punya sepupu kembar--lelaki dan perempuan--juga teman kembar--sepasang perempuan. Saya selalu menganggap mereka istimewa. Dan, saya iri. 

Saya berharap terlahir kembar. Terkadang, saya bertanya-tanya, akan seperti apa kehidupan saya jika memiliki saudara perempuan--atau lelaki--yang lahir hanya lima-sepuluh menit setelah saya, yang berwajah identik dan berbagi banyak kesamaan dengan saya. Saya bahkan ingin sekali memiliki anak kembar. Sayangnya, saya tidak menyimpan gen itu dalam diri saya. Sama sekali.

Jadi, yang bisa saya lakukan adalah menulis tentang hal tersebut. Lewat Walking After You.

Walking After You: Hujan Setempat yang Sendu


Barangkali, hujan adalah inspirasi terbesar saya dalam menulis. Kita sama-sama tahu, bukan hanya satu-dua kali saja saya menulis tentang hujan. Entah apa penyebabnya. 

Tetapi, saya memang sangat menyukai fenomena alam yang satu ini. Setiap butir-butir bening turun dari langit, saya selalu menengadah, memandangi awan kelabu yang misterius, tersenyum diam-diam, dan merasa hangat di dada. Ada rindu, tetapi juga ada kegembiraan.

Walking After You: Toko Kue Kecil di Suburban

Miette di San Fransisco

Cerita dalam Walking After You terjadi di sebuah toko kue kecil di Suburban yang bernama Afternoon Tea. Lokasi tepatnya di Bintaro, dekat tempat saya tinggal saat ini. Di salah satu ruas yang diapit barisan kafe dan butik, sedikit di luar garis batas Jakarta.

Walking After You

Kau tak perlu melupakan masa lalu.
Kau hanya perlu menerimanya.

Masa lalu akan tetap ada. Kau tidak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali kepadanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang tak bisa ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkan kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka.

Mungkin, kisah An seperti kisahmu.
Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.


Satu dan Dua Hal (atau Lebih)

Lama tidak mengisi blog, saya ingin mengabari beberapa hal. Semacam update status basa-basi. Semata-mata supaya ada yang bisa dibaca di sini. Beberapa hal itu ada yang asyik, ada yang--katakan saja--tidak terlalu asyik. Mari kita mulai dari naskah terakhir yang saya tulis.

Naskah ini berkisah tentang Samuel Hardi. Pembaca Montase mengenal dia. Sudah lama saya ingin menjadikan dia tokoh utama dan akhirnya kesampaian juga. Pastinya, naskah ini diperuntukkan bagi pembaca dewasa karena--yah--kita membicarakan Samuel Hardi. Yang mungkin tidak disangka-sangka bahkan oleh saya sendiri adalah genre naskah ini. Drama. Sedikit mengarah pada drama keluarga. Sebelumnya, saya selalu mengira kisah tentang Samuel Hardi akan murni roman. Tetapi, itu sebabnya menulis menyenangkan. Dalam prosesnya, saya sering menemukan kejutan.

Tentang An dan Ju

gambar milik Olivia B. Waxman

Dahulu, saya sering berkisah tentang An dan Ju lewat cerita pendek. Mereka seperti sepasang kekasih yang hidup dalam banyak kepribadian dan dimensi. Awalnya, saya memakai An dan Ju berulang-ulang karena malas mencari nama lain. Saya harus menulis satu cerpen per hari dan nama adalah hal terakhir yang saya pikirkan. Lalu, lama-kelamaan itu menjadi kebiasaan. An dan Ju pun akrab dengan cerpen-cerpen saya. Kali ini, saya mengajak mereka hadir dalam novel. 

Judulnya, Afternoon Tea.

Jejak Air di Jendela

Aku menjadi semakin akrab dengan hujan setelah Arlet pergi.

Sebelum itu, bagiku, hujan hanya bisik samar yang kudengarkan sambil lalu ketika aku memasak risotto atau membaca buku-buku tulisan Jamie Oliver, seperti lagu-lagu jazz dan suara televisi yang menyala di ruang duduk. Kini aku menghabiskan banyak waktu bersama hujan, membiarkan jejak air di jendela membawa aku pulang ke masa lalu, ke rangkaian kenangan usang tentang Arlet yang kurindukan.

Ya. Aku merindukan Arlet. Sangat.

Lelaki Penyuka Salsa

Lelaki itu bernama Jinendra.

Dia berdarah setengah Bali, seper empat Australia, dan seper empat Italia. Matanya biru keabu-abuan. Kulitnya cokelat. Tubuhnya beraroma laut musim panas. Ciumannya seperti segelas anggur.

Jika dia tersenyum, di kedua pipinya muncul lekuk kecil yang samar. Sepasang lesung pipit itu, aku tidak akan lupa, tampak sungguh manis bersama segaris jenggot tipis di dagunya. Dia berbicara dengan bahasa-bahasa yang bercampur aduk. Suaranya berat dan agak sengau. Kata-katanya memikat. Tawanya berlagu naik-turun.

Hujan dan Souffle

Hujan kerap dikaitkan dengan kesedihan.

Dalam banyak film, terutama film-film bertema cinta yang sering ditonton oleh Arlet sembari menangis tersedu-sedu, hujan selalu hadir ketika para tokoh mengalami momen melankolis–penantian yang sia-sia, perpisahan, patah hati, atau kehilangan seseorang yang disayangi.

Demikian pula dalam buku-buku fiksi senada, hujan memiliki peran yang sama: menemani sosok-sosok kesepian yang menyusuri jalan sepi sendirian.