Beberapa teman menanyakan sketsa Julian kepada saya. Ternyata banyak yang menyukai si amat-terlalu-kelewat serius ini. Padahal, dahulu saya sempat khawatir pembaca tidak akan menerima lelaki yang pemalu dan tidak berpengalaman dengan perempuan sama sekali seperti dia. Saya lega begitu menerima banyak salam gemas yang ditujukan untuk Julian. Bagi saya sendiri, dia tokoh yang asyik untuk dijaili. Saat An menggodanya dalam Walking After You, sebenarnya saya yang sedang menggodanya. Dia mainan baru saya.
Nah, kembali ke sketsa. Akhirnya, pada satu malam ketika saya diserang insomnia, sketsa itu jadi. Baru sebatas sketsa pensil. Rencananya, saya akan mewarnainya dengan cat air seperti yang sudah-sudah, tetapi entah kapan.
Di sini, Julian bersama An. Saya pikir, ekspresi malu-malunya adalah hal paling menarik dari dirinya. Supaya dia malu-malu, saya butuh An. Rambut Julian dibuat halus dan jatuh. Matanya sedikit sipit. Garis wajahnya lembut. Dan, alisnya cantik. Kalau diwarnai nanti, kulitnya pucat dan bibirnya kemerah-merahan.
Dia manis, kan.






