.

.
Showing posts with label Interlude. Show all posts
Showing posts with label Interlude. Show all posts

Interlude Blog Tour

Halo!

Menyambut terbitnya Interlude, saya dan Gagasmedia mengadakan Interlude Blog Tour. Program ini didukung oleh lima blogger dan berlangsung selama lima hari berturut-turut mulai 21 Mei 2014 hingga 25 Mei 2014. Kami akan membahas Interlude di lima blog pada lima waktu berbeda setiap harinya. Tema berganti-ganti sehingga akan ada banyak info seru tentang Interlude dan ada bagi-bagi buku juga.


Lima blogger yang ikut serta dalam program ini adalah:


Martina Sugondo di A Pair of Glasses and A Cup of Tea pada pukul 10.00.
Ardina Nur Rahma di Hello Sunshine pada pukul 12.00.
Dian S. Putu di Jejak Langkahku pada pukul 14.00.
M. Rasyid Ridho di Ini Dunia Bukuku pada pukul 16.00.
M. Nikmal Abdullah di Telepati pada pukul 18.00.

Catat waktunya dan simpan alamat blog mereka. Jangan sampai kelewatan, ya. Dan, ayo ikut giveaway yang mereka adakan!

Sketsa Interlude

Saya senang membuat sketsa selama mengembangkan tokoh dalam novel. Itu memudahkan saya membayangkan fisik dan gaya mereka. Hanya sketsa sederhana, sebenarnya. Dibuat di buku yang sama dengan tempat saya mencoret-coret ide dan outline cerita, pakai pensil. 

Saat mengimajinasikan tokoh-tokoh penting Interlude pun saya melakukan hal yang sama. Dalam post kali ini, saya ingin share sketsa-sketsa tersebut. Ada sejumlah catatan juga di sisi-sisinya, tetapi sebagian berubah di novel sesuai kebutuhan cerita.

Hanna

Jazz dalam Interlude


Saya menyelipkan jazz dalam buku keenam saya, Interlude. Kai dan dua temannya, Gitta dan Jun, bermain musik. Mereka membuat grup bertiga. Dan, saya memilihkan jazz untuk mereka. Semula, saya tidak terlalu paham jazz, sebenarnya. Kali pertama mengenal jazz, saya membeli album Coco D'Or (semata-mata karena itu grup musik Jepang). Ternyata, musik mereka asyik. Sejak itu, saya (sedikit) mendengarkan jazz.

Interlude

selalu ada jeda untuk bahagia

Hanna,
listen.
Don't cry, don't cry.
The world is envy.
You're too perfect
and she hates it.

Aku tahu kau menyembunyikan luka di senyummu yang retak.
Kemarilah, aku akan menjagamu,
asalkan kau mau mengulurkan tanganmu.

"Waktu tidak berputar ulang. Apa yang sudah hilang,
tidak akan kembali. Dan, aku sudah hilang."
Aku ingat kata-katamu itu. Masih terpatri di benakku.

Aku tidak selamanya berengsek.
Bisakah kau memercayaiku, sekali lagi?

Kilat rasa tidak percaya di matamu,
membuatku tiba-tiba meragukan diriku sendiri.
Tapi, sungguh, aku mencintaimu,
merindukan manis bibirmu.

Apa lagi yang harus kulakukan agar kau percaya?
Kenapa masih saja senyum retakmu yang kudapati?

Hanna, kau dengarkah suara itu?
Hatiku baru saja patah....

Meet Hanna: Laut

"That Feeling" milik machihuahua.deviantart.com


Pesan teks dari mamanya lagi.

Bagaimana terapimu tadi?

Hanna berhenti di depan pintu apartemen tempat dia indekos, di selasar sempit yang temaram dan sepi. Gadis itu lama menatap layar ponselnya, mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan mamanya–atau barangkali menimbang-nimbang apakah pertanyaan mamanya itu perlu dijawab. Pada akhirnya, dia membalas:

Hanna & Kai


Saya ingin bercerita sedikit tentang naskah terbaru yang selesai ditulis akhir Juni lalu. Belum ada judul. Untuk sementara, saya menyebutnya 'Hanna & Kai'. Naskah ini contoh bahwa ide bukan ditunggu, melainkan dicari.

Meet Kai: "Too Drunk To Fuck"

Draggin The Line by http://fogke.deviantart.com

Went to a party. I danced all night. 
I drank sixteen beers. And I started a fight. 
But now I am jaded. You’re out of luck. 
I’m rolling down the stairs. Too drunk to fuck.

Sungguh, Kai paling tidak suka jika ponselnya menggumamkan lagu itu.