.

.
Showing posts with label windry's world. Show all posts
Showing posts with label windry's world. Show all posts

Glaze: Art on Plate



Sedikit cerita tentang ilustrasi dalam Glaze. Salah satu hal menarik yang saya kerjaan dalam persiapan penerbitan buku ini.
Seperti buku-buku sebelumnya, saya menyiapkan ilustrasi. Tetapi, tidak seperti buku-buku sebelumnya, ada banyak dan banyak dan banyak ilustrasi dalam Glaze. Bisanya, saya hanya menyiapkan beberapa. Ada sekitar sepuluh ilustrasi di Orange (saya lupa jumlah pastinya), enam di Last Forever, dan tiga di Angel in The Rain. Di Glaze, ada dua puluh empat!

Sebenarnya, semula, saya tidak berencana membuat ilustrasi. Saya ingin sedikit santai di buku yang satu ini. Lalu, Christian Simamora bertanya kepada saya, "Kamu mau bikin sendiri ilustrasi buat Glaze, nggak?" karena menurutnya ilustrator mereka kurang cocok untuk gaya tulisan saya. Saya--yah--tidak pernah bisa menolak Christian. 

Pembicaraan mengenai ilustrasi tidak berhenti di situ. Kami tidak ingin ilustrasi biasa. Lalu, setelah obrolan panjang di WhatsApp dan tukar-menukar puluhan referensi, muncul ide ini: ilustrasi di permukaan gerabah. Karena, salah satu tokoh di Glaze adalah seniman keramik. Ilustrasi-ilustrasi itu akan menjadi seperti kumpulan benda pameran di galeri. Dan, kami sama-sama bersemangat dengan ide tersebut.

Saya mendapat waktu satu bulan, dengan asumsi saya mampu menyelesaikan satu ilustrasi setiap satu hari. Yah, satu bulan yang sibuk, melelahkan, tetapi asyik karena mendapat pengalaman baru. Di akhir proses, saya sangat dan sangat dan sangat menyukai hasilnya. Bagaimana menurut kalian?

Saat ini saya sedang mencari ide untuk memanfaatkan ilustrasi ini. Sepertinya asyik kalau bisa membuat piring sungguhan dengan ilustrasi ini di permukaannya. Sayangnya, sulit menemukan vendor yang bagus. Saya juga sempat berpikir untuk membuat kantong koin berbentuk bulat bergambar ilustrasi ini. Mungkin lucu, ya. Kalau kalian ada ide, silakan komentar di bawah ini. Siapa tahu, kita bisa mewujudkannya.

Last Forever: Book Jacket


Saya dan GagasMedia menyiapkan edisi terbatas Last Forever. Edisi ini disertai jaket buku yang didesain khusus. Kami menampilkan beberapa ilustrasi yang ada dalam buku di jaket tersebut. Bahannya kain. Gambar dicetak digital sehingga hasilnya cantik.

Ide membuat jaket buku muncul dari keinginan saya menghadirkan merchandise unik seperti yang saya hadirkan saat Orange terbit ulang. Tetapi, saya ingin merchandise yang berbeda dan jaket buku jarang ditemukan.

Jika ingin memilikinya, teman-teman bisa memesan di sini. Ada tiga desain.

Last Forever: Lana Lituhayu Hart

Lana Lituhayu Hart 

Lana Lituhayu Hart lahir ketika saya bertanya-tanya, seperti apakah perempuan yang bisa membuat seorang Samuel Hardi bertekuk lutut.

"Dia harus sempurna," kata seorang teman, "kalau tidak, Samuel hanya akan menyukainya secara parsial, lalu meninggalkannya setelah bosan." Teman saya benar.

Last Forever: Samuel Hardi

Samuel Hardi
Pembaca Montase pasti mengenal Samuel Hardi, sineas dokumenter berkelas internasional yang punya masalah kepribadian. Sejak pertama, saya sudah begitu menyukainya. Bukan rahasia lagi, saya selalu jatuh hati kepada lelaki sinis dan genius. Itu kelemahan terbesar saya. Tetapi, Samuel berbeda. Dia memiliki sisi-sisi buruk yang menjadikannya tidak ideal. Itu sebabnya saya begitu menyukainya.

Ada rasa ingin yang kuat untuk menuliskan sesuatu mengenai dia. Supaya dia menjelma utuh, supaya saya bisa lebih dekat dengannya. Pada saat yang bersamaan, ada rasa cemas. Saya takut pembaca tidak akan menerimanya karena sisi-sisi buruk tadi. Jadi, saya menahan rasa ingin itu dan mulai berpikir barangkali saya tidak akan pernah bertemu lagi dengannya.

Orange Eco Bag

Saya menyukai tas. Bukan tas desainer, melainkan tas sederhana berbahan kanvas atau belacu yang bisa dipakai untuk menyimpan belanjaan saya saat ke pasar atau ke toko buku. Jadi, beberapa bulan lalu, setelah menyelesaikan sketsa Faye dan Rera, saya iseng membuat tas kanvas bergambar mereka. Hasilnya ternyata cantik sekali. Sekarang, ke mana-mana, saya membawa tas ini.

Banyak teman yang ingin memilikinya juga saat saya memperlihatkannya di Instagram. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjadikan tas ini merchandise resmi Orange. Untuk tas yang diproduksi banyak, saya menggunakan tone Brannan (tas dalam gambar di bawah menggunakan tone asli), karena harus menyamakan dengan bonus kartus pos yang akan dibagikan kepada teman-teman yang membeli Orange bertanda tangan di toko-toko buku online.

Tas ini segera bisa dipesan (pre order) di blog saya. Tunggu, ya!


Old World

Faye

Sejak kecil, barangkali sejak belum bisa mengingat apa-apa, saya sudah senang bercerita. Awalnya, saya bercerita secara lisan, lalu memakai gambar, dan baru tujuh tahun ini menulis.

Saya berasal dari generasi yang menyaksikan permulaan manga dan anime masuk ke Indonesia (ya, sayangnya, saya sudah tua). Kami pembaca pertama Candy-Candy, penonton pertama Doraemon, pendengar pertama L'Arc~en~Ciel. Jadi, sewaktu saya memakai gambar untuk bercerita, hal-hal tersebut tampak jelas.

Ada masanya saya menjadi mangaka--tentunya mangaka amatir. Bersama beberapa penggila budaya Jepang lainnya, saya membentuk kelompok seni. Tetapi, pada dasarnya, kami membuat komik. Masing-masing memiliki cerita, tokoh, dan gaya sendiri-sendiri. Anak-anak lelaki beraliran Amerika, anak-anak perempuan beraliran Jepang. Tetapi, intinya, kami sama-sama membagi selembar kertas A4 menjadi panel-panel, mengisinya dengan gambar, lalu menyelipkan kotak narasi atau balon dialog. Dan, kami sempat menerbitkan komik indie.

Dunia itu saya tinggalkan saat lulus sekolah. Lebih dari sepuluh tahun saya tidak bersentuhan dengan dunia itu lagi. Kini, tiba-tiba, saya merindukannya. Hem, tidak tiba-tiba, sebenarnya. 

Walking After You: An dan Ju


Beberapa teman menanyakan sketsa Julian kepada saya. Ternyata banyak yang menyukai si amat-terlalu-kelewat serius ini. Padahal, dahulu saya sempat khawatir pembaca tidak akan menerima lelaki yang pemalu dan tidak berpengalaman dengan perempuan sama sekali seperti dia. Saya lega begitu menerima banyak salam gemas yang ditujukan untuk Julian. Bagi saya sendiri, dia tokoh yang asyik untuk dijaili. Saat An menggodanya dalam Walking After You, sebenarnya saya yang sedang menggodanya. Dia mainan baru saya.

Nah, kembali ke sketsa. Akhirnya, pada satu malam ketika saya diserang insomnia, sketsa itu jadi. Baru sebatas sketsa pensil. Rencananya, saya akan mewarnainya dengan cat air seperti yang sudah-sudah, tetapi entah kapan.

Di sini, Julian bersama An. Saya pikir, ekspresi malu-malunya adalah hal paling menarik dari dirinya. Supaya dia malu-malu, saya butuh An. Rambut Julian dibuat halus dan jatuh. Matanya sedikit sipit. Garis wajahnya lembut. Dan, alisnya cantik. Kalau diwarnai nanti, kulitnya pucat dan bibirnya kemerah-merahan.

Dia manis, kan. 

Walking After You: Gemelli


"Gemelli" adalah kata Italia untuk kembar. 

Sejak masih kecil, saya sudah terobsesi. Saya punya sepupu kembar--lelaki dan perempuan--juga teman kembar--sepasang perempuan. Saya selalu menganggap mereka istimewa. Dan, saya iri. 

Saya berharap terlahir kembar. Terkadang, saya bertanya-tanya, akan seperti apa kehidupan saya jika memiliki saudara perempuan--atau lelaki--yang lahir hanya lima-sepuluh menit setelah saya, yang berwajah identik dan berbagi banyak kesamaan dengan saya. Saya bahkan ingin sekali memiliki anak kembar. Sayangnya, saya tidak menyimpan gen itu dalam diri saya. Sama sekali.

Jadi, yang bisa saya lakukan adalah menulis tentang hal tersebut. Lewat Walking After You.

Walking After You: Hujan Setempat yang Sendu


Barangkali, hujan adalah inspirasi terbesar saya dalam menulis. Kita sama-sama tahu, bukan hanya satu-dua kali saja saya menulis tentang hujan. Entah apa penyebabnya. 

Tetapi, saya memang sangat menyukai fenomena alam yang satu ini. Setiap butir-butir bening turun dari langit, saya selalu menengadah, memandangi awan kelabu yang misterius, tersenyum diam-diam, dan merasa hangat di dada. Ada rindu, tetapi juga ada kegembiraan.

Walking After You: Toko Kue Kecil di Suburban

Miette di San Fransisco

Cerita dalam Walking After You terjadi di sebuah toko kue kecil di Suburban yang bernama Afternoon Tea. Lokasi tepatnya di Bintaro, dekat tempat saya tinggal saat ini. Di salah satu ruas yang diapit barisan kafe dan butik, sedikit di luar garis batas Jakarta.

Satu dan Dua Hal (atau Lebih)

Lama tidak mengisi blog, saya ingin mengabari beberapa hal. Semacam update status basa-basi. Semata-mata supaya ada yang bisa dibaca di sini. Beberapa hal itu ada yang asyik, ada yang--katakan saja--tidak terlalu asyik. Mari kita mulai dari naskah terakhir yang saya tulis.

Naskah ini berkisah tentang Samuel Hardi. Pembaca Montase mengenal dia. Sudah lama saya ingin menjadikan dia tokoh utama dan akhirnya kesampaian juga. Pastinya, naskah ini diperuntukkan bagi pembaca dewasa karena--yah--kita membicarakan Samuel Hardi. Yang mungkin tidak disangka-sangka bahkan oleh saya sendiri adalah genre naskah ini. Drama. Sedikit mengarah pada drama keluarga. Sebelumnya, saya selalu mengira kisah tentang Samuel Hardi akan murni roman. Tetapi, itu sebabnya menulis menyenangkan. Dalam prosesnya, saya sering menemukan kejutan.

Sesuatu yang Usang


Ada kalanya saya merasa masa lalu lebih menarik. Dahulu, hanya ada telepon kabel dan surat. Kita membuat janji temu dengan seseorang jauh-jauh hari, lalu menunggu di tempat dan pada waktu yang telah disepakati sambil berharap-harap cemas. Kita tidak bisa yakin seratus persen bahwa seseorang itu akan datang. Kita tidak tahu apakah dia sedang dalam perjalanan, atau apakah dia ingat untuk menemui kita. Tidak ada ponsel, pesan teks, dan internet. Dahulu, dunia sungguh-sungguh luas dan kita begitu terbatas.

Sketsa Interlude

Saya senang membuat sketsa selama mengembangkan tokoh dalam novel. Itu memudahkan saya membayangkan fisik dan gaya mereka. Hanya sketsa sederhana, sebenarnya. Dibuat di buku yang sama dengan tempat saya mencoret-coret ide dan outline cerita, pakai pensil. 

Saat mengimajinasikan tokoh-tokoh penting Interlude pun saya melakukan hal yang sama. Dalam post kali ini, saya ingin share sketsa-sketsa tersebut. Ada sejumlah catatan juga di sisi-sisinya, tetapi sebagian berubah di novel sesuai kebutuhan cerita.

Hanna

Jazz dalam Interlude


Saya menyelipkan jazz dalam buku keenam saya, Interlude. Kai dan dua temannya, Gitta dan Jun, bermain musik. Mereka membuat grup bertiga. Dan, saya memilihkan jazz untuk mereka. Semula, saya tidak terlalu paham jazz, sebenarnya. Kali pertama mengenal jazz, saya membeli album Coco D'Or (semata-mata karena itu grup musik Jepang). Ternyata, musik mereka asyik. Sejak itu, saya (sedikit) mendengarkan jazz.

Sedikit Cerita Tentang Nama Panggilan


Ini bukan pembelaan. Saya ingin menulis ocehan ini pada satu dini hari ketika kakak angkat saya mengirim sebuah pesan. Tidak penting apa isi pesannya. Yang penting adalah ini: di pesan itu, dia memanggil saya Ndi.

Beberapa pembaca London: Angel mempertanyakan kebiasaan Gilang memberi julukan kepada teman-temannya. Ada yang berkata dia tidak menghargai mereka dengan begitu. Saat memutuskan bagian tersebut dalam novel London: Angel, saya tidak berpikir ke arah sana sama sekali. Dan, hingga saat ini saya tidak sependapat.

Tentang An dan Ju

gambar milik Olivia B. Waxman

Dahulu, saya sering berkisah tentang An dan Ju lewat cerita pendek. Mereka seperti sepasang kekasih yang hidup dalam banyak kepribadian dan dimensi. Awalnya, saya memakai An dan Ju berulang-ulang karena malas mencari nama lain. Saya harus menulis satu cerpen per hari dan nama adalah hal terakhir yang saya pikirkan. Lalu, lama-kelamaan itu menjadi kebiasaan. An dan Ju pun akrab dengan cerpen-cerpen saya. Kali ini, saya mengajak mereka hadir dalam novel. 

Judulnya, Afternoon Tea.

Hanna & Kai


Saya ingin bercerita sedikit tentang naskah terbaru yang selesai ditulis akhir Juni lalu. Belum ada judul. Untuk sementara, saya menyebutnya 'Hanna & Kai'. Naskah ini contoh bahwa ide bukan ditunggu, melainkan dicari.

Unforgotten



Hai! Post yang satu ini saya hadiahkan kepada penerbit tersayang saya.

4 Juli. Gagasmedia berulang tahun kesepuluh hari ini. Dan, saya ingin berbagi beberapa momen tidak terlupakan. Dimulai dari 2008.

(Craft) My Pretty Pink SMASH Folio

This is my new addiction.

I bought Pretty Pink SMASH folio by K&Company about a month a go and now I'm starting to fill it up with my junks: laces, ribbons, patterned papers, photos, stuffs like that. The smashing idea of SMASH reminds me of the old style scrapbooking: we put our to do list, movie ticket, picture of a dress, card, article from magazine, photo, etc inside a notepad.

 

(Craft) Memories with You

Just made these pretty stuffs few days a go: bookmarks and key chains. They are so adorable and I'm thinking about to make them as giveaways for my friends and readers. What do you think?

key and lock