
‘Hei, An.’
Suratmu datang pada sore hari. Terbungkus amplop jingga seperti biasa. Aku meraba ujungnya, merobek sisi yang kaurekat dengan lem. Surat yang kau kirim kali ini, Ju, jauh lebih tipis dari biasanya. Hanya terdiri dari satu lembar kertas berserat yang kaulipat menjadi tiga bagian. Berisi beberapa baris kata yang samar kulihat dan menebarkan aroma tembakau.
Apa yang kautulis, Ju?
An.
Satu bungkus rokok tidak juga bisa membuat saya tenang. Satu bungkus rokok yang saya sembunyikan darimu di bawah kasur. Puntung-puntungnya menumpuk di asbak. Di sebelahnya: sepucuk surat dari Delft yang tiba kemarin sore. Tergeletak berjam-jam di sana dan saya diam memandanginya. Mencoba merangkai kata yang tepat untuk memberitahumu sebuah berita tapi kepala saya seperti kosong.
“Ju.”
Pintu depan rumah berderit. Kamu muncul dari baliknya. Berjalan perlahan sambil meraba-raba ruang sempit. Tubuhmu berbalut baju hangat tipis, tanganmu menenteng plastik belanjaan. Saya bergegas bangkit dari sofa panjang yang berdebu, mengulurkan tangan untuk membantumu mendekat.
“Sudah saya bilang. Biar saya saja yang datang ke tempatmu.”
Kamu tidak menjawab, hidungmu mengendus aroma ruangan. “Kau merokok ya?” ucapmu dengan nada kesal.
Giliran saya yang tidak menjawab, menghadirkan hening yang ganjil, lalu kamu bertanya, “Ada apa, Ju?”
‘Saya menulis surat ini di tengah himpitan kardus-kardus, di sudut apartemenku. Salju turun lebat di Delft, An. Langit malam dipenuhi bintik-bintik putih.’
Kau bilang, hanya cintaku saja sudah cukup.
“Saya tidak akan pergi. Akan saya tulis surat balasan pada mereka.”
Wajahmu baur dalam tatapanku. Kau mengulas senyum masam. Ada sedih yang kausembunyikan dariku, aku tahu. Kuulurkan kedua tangan, merengkuh wajahmu dan aku berbisik. “Kita sedang membicarakan Delft, Ju.” Kau memimpikan Delft setiap saat. Bertahun-tahun sejak kita masih kuliah kau selalu berkata, kau akan terbang ke kota itu. Menaklukkan Eropa. Menaklukkan Koolhas.
Kau menjawab, “Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan.”
Aku tertawa. Pedih. Bukan karena mendengar keputusanmu, tetapi karena aku tahu betul alasan di baliknya. Kutarik tanganku, kuciptakan jarak dengan melangkah mundur.
“An ...”
Kuraba ruangan, berjalan secepat yang aku bisa untuk keluar dari rumahmu. Kau buru-buru mengikutiku, tanganmu menuntunku sambil kau berusaha mengatakan sesuatu untuk memperbaiki situasi. “Saya tidak butuh Delft, An. Saya punya kamu.”
“Tentu saja kau membutuhkan Delft. Hanya di sana kau bisa meraih apa yang kau inginkan. Kau sendiri yang selalu berkata, kau ingin berubah. Kau tidak ingin terus-menerus terjebak dalam situasi seperti saat ini.”
“Saya punya kamu,” kau mengulangi ucapanmu. Kau bilang, hanya cintaku saja sudah cukup. Tapi aku tahu, itu tidak benar.
‘Besok saya akan meninggalkan Delft. Saya akan pergi ke New York. Koolhas mengirim saya ke sana.
An. Mengapa semakin jauh saja saya pergi darimu?’
Saya menatap selembar kertas putih di hadapan saya. Tangan kanan saya sudah sejak tadi menggenggam pena, tetapi tidak satu kata pun saya tuliskan di permukaan kertas itu.
“Pergi saja, Ju.” Kamu berkata memecah keheningan.
Kita duduk bersama di ruang tengah rumahku yang sempit. Cahaya masuk dari jendela yang kamu buka. Di luar sana, langit biru cerah. Beberapa awan menggumpal di kejauhan. Dua buah layangan berkejaran dikendalikan senar tipis.
“Pergilah ke Delft, walau sendiri.”
Saya terdiam.
“Jangan kuatir. Aku akan baik-baik saja.”
Saya masih terdiam.
An. Apakah kamu sadar? Suaramu bergetar mengatakan semua itu. Pundakmu berguncang. Kamu duduk membelakangiku, tetapi aku tahu. Berhenti menangis, An.
Ju.
Aku tidak mengantarmu pergi hari ini. Aku tidak suka perpisahan. Kutuliskan surat sebagai gantinya dan tulislah surat sebagai balasan untukku dari Delft. Di luar jendela kamarku, kudengar suara dengung pesawat di udara, begitu jauh.
Apakah itu pesawatmu?
Saya tidak melihatmu di bandara hari itu walau saya ingin melihat wajahmu untuk terakhir kalinya. Kamu hanya menitipkan surat. Selembar kertas dalam amplop jingga, bertuliskan serangkaian kalimat dalam dua baris.
Saya mengirimimu surat dari Delft, sesuai permintaanmu. Surat yang panjang dan berisi ribuan kata. Saya tulis besar-besar agar kamu mudah membacanya. Saya mengirimimu surat setiap bulan, setiap minggu. Saya mengirimimu banyak surat. Dan masih akan terus saya kirimi, sampai saya kembali.
Surat-surat saya, An, kamu membacanya?
Surat-suratmu, Ju, kuterima hampir setiap bulan.
Terbungkus amplop jingga dan banyaknya berlembar-lembar. Kau menulis dengan huruf-huruf yang besar, mungkin agar mudah kubaca Aku masih menyimpan semua surat yang kau kirim. Kutata rapi dalam kotak rotan di samping tempat tidurku. Kubuka saat aku rindu di pagi atau sore hari. Kuraba permukaannya yang berserat dan kuhirup aroma tembakau yang selalu menyertainya.
Surat-suratmu, Ju, sudah sejak lama tidak terbaca olehku.
Apa yang kautulis?
‘Saya ingin kembali.’
Jakarta, 6 Maret 2008
dari Kiss Me Good-bye, musik pop Jepang yang dinyanyikan oleh Angela Aki
Suratmu datang pada sore hari. Terbungkus amplop jingga seperti biasa. Aku meraba ujungnya, merobek sisi yang kaurekat dengan lem. Surat yang kau kirim kali ini, Ju, jauh lebih tipis dari biasanya. Hanya terdiri dari satu lembar kertas berserat yang kaulipat menjadi tiga bagian. Berisi beberapa baris kata yang samar kulihat dan menebarkan aroma tembakau.
Apa yang kautulis, Ju?
-------------
An.
Satu bungkus rokok tidak juga bisa membuat saya tenang. Satu bungkus rokok yang saya sembunyikan darimu di bawah kasur. Puntung-puntungnya menumpuk di asbak. Di sebelahnya: sepucuk surat dari Delft yang tiba kemarin sore. Tergeletak berjam-jam di sana dan saya diam memandanginya. Mencoba merangkai kata yang tepat untuk memberitahumu sebuah berita tapi kepala saya seperti kosong.
“Ju.”
Pintu depan rumah berderit. Kamu muncul dari baliknya. Berjalan perlahan sambil meraba-raba ruang sempit. Tubuhmu berbalut baju hangat tipis, tanganmu menenteng plastik belanjaan. Saya bergegas bangkit dari sofa panjang yang berdebu, mengulurkan tangan untuk membantumu mendekat.
“Sudah saya bilang. Biar saya saja yang datang ke tempatmu.”
Kamu tidak menjawab, hidungmu mengendus aroma ruangan. “Kau merokok ya?” ucapmu dengan nada kesal.
Giliran saya yang tidak menjawab, menghadirkan hening yang ganjil, lalu kamu bertanya, “Ada apa, Ju?”
-------------
‘Saya menulis surat ini di tengah himpitan kardus-kardus, di sudut apartemenku. Salju turun lebat di Delft, An. Langit malam dipenuhi bintik-bintik putih.’
-------------
Kau bilang, hanya cintaku saja sudah cukup.
“Saya tidak akan pergi. Akan saya tulis surat balasan pada mereka.”
Wajahmu baur dalam tatapanku. Kau mengulas senyum masam. Ada sedih yang kausembunyikan dariku, aku tahu. Kuulurkan kedua tangan, merengkuh wajahmu dan aku berbisik. “Kita sedang membicarakan Delft, Ju.” Kau memimpikan Delft setiap saat. Bertahun-tahun sejak kita masih kuliah kau selalu berkata, kau akan terbang ke kota itu. Menaklukkan Eropa. Menaklukkan Koolhas.
Kau menjawab, “Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan.”
Aku tertawa. Pedih. Bukan karena mendengar keputusanmu, tetapi karena aku tahu betul alasan di baliknya. Kutarik tanganku, kuciptakan jarak dengan melangkah mundur.
“An ...”
Kuraba ruangan, berjalan secepat yang aku bisa untuk keluar dari rumahmu. Kau buru-buru mengikutiku, tanganmu menuntunku sambil kau berusaha mengatakan sesuatu untuk memperbaiki situasi. “Saya tidak butuh Delft, An. Saya punya kamu.”
“Tentu saja kau membutuhkan Delft. Hanya di sana kau bisa meraih apa yang kau inginkan. Kau sendiri yang selalu berkata, kau ingin berubah. Kau tidak ingin terus-menerus terjebak dalam situasi seperti saat ini.”
“Saya punya kamu,” kau mengulangi ucapanmu. Kau bilang, hanya cintaku saja sudah cukup. Tapi aku tahu, itu tidak benar.
-------------
‘Besok saya akan meninggalkan Delft. Saya akan pergi ke New York. Koolhas mengirim saya ke sana.
An. Mengapa semakin jauh saja saya pergi darimu?’
-------------
Saya menatap selembar kertas putih di hadapan saya. Tangan kanan saya sudah sejak tadi menggenggam pena, tetapi tidak satu kata pun saya tuliskan di permukaan kertas itu.
“Pergi saja, Ju.” Kamu berkata memecah keheningan.
Kita duduk bersama di ruang tengah rumahku yang sempit. Cahaya masuk dari jendela yang kamu buka. Di luar sana, langit biru cerah. Beberapa awan menggumpal di kejauhan. Dua buah layangan berkejaran dikendalikan senar tipis.
“Pergilah ke Delft, walau sendiri.”
Saya terdiam.
“Jangan kuatir. Aku akan baik-baik saja.”
Saya masih terdiam.
An. Apakah kamu sadar? Suaramu bergetar mengatakan semua itu. Pundakmu berguncang. Kamu duduk membelakangiku, tetapi aku tahu. Berhenti menangis, An.
-------------
Ju.
Aku tidak mengantarmu pergi hari ini. Aku tidak suka perpisahan. Kutuliskan surat sebagai gantinya dan tulislah surat sebagai balasan untukku dari Delft. Di luar jendela kamarku, kudengar suara dengung pesawat di udara, begitu jauh.
Apakah itu pesawatmu?
-------------
Saya tidak melihatmu di bandara hari itu walau saya ingin melihat wajahmu untuk terakhir kalinya. Kamu hanya menitipkan surat. Selembar kertas dalam amplop jingga, bertuliskan serangkaian kalimat dalam dua baris.
Saya mengirimimu surat dari Delft, sesuai permintaanmu. Surat yang panjang dan berisi ribuan kata. Saya tulis besar-besar agar kamu mudah membacanya. Saya mengirimimu surat setiap bulan, setiap minggu. Saya mengirimimu banyak surat. Dan masih akan terus saya kirimi, sampai saya kembali.
Surat-surat saya, An, kamu membacanya?
-------------
Surat-suratmu, Ju, kuterima hampir setiap bulan.
Terbungkus amplop jingga dan banyaknya berlembar-lembar. Kau menulis dengan huruf-huruf yang besar, mungkin agar mudah kubaca Aku masih menyimpan semua surat yang kau kirim. Kutata rapi dalam kotak rotan di samping tempat tidurku. Kubuka saat aku rindu di pagi atau sore hari. Kuraba permukaannya yang berserat dan kuhirup aroma tembakau yang selalu menyertainya.
Surat-suratmu, Ju, sudah sejak lama tidak terbaca olehku.
Apa yang kautulis?
-------------
‘Saya ingin kembali.’
Jakarta, 6 Maret 2008
dari Kiss Me Good-bye, musik pop Jepang yang dinyanyikan oleh Angela Aki
No comments:
Post a Comment